BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kegiatan
dalam pratikum lapangan sangat menunjang kegiatan mahasiswa terutama dalam
pengetahuan dibidang pertanian yang ada di Indonesia. Kegiatan pertanian yang
semakin pesat membuat daya pikir mahasiswa semakin berkembang dalam
meningkatkan inovasi-inivasi terbaru guna menjadikan pertanian semakin maju
disegala sektor yang ada. Pertanian sebagai bahan baku makanan penduduk
Indonesia semakin membuat mahasiswa berlomba-lomba dalam menggali pengetuan
untuk meningkatkan pertanian. Perternakan sebagai salah satu ketegori pertanian
berhubungan erat dengan budidaya tanaman baik dalam bidang pakan ataupun yang
lainnya.
Hasil mutu para petani sanggat memprihatinkan dengan hasil panen yang tidak begitu
memuaskan dalam segi kualitas dan kuantitas produksi. Hal ini tidak lepas dari
mutu daya saing para petani juga mempengaruhi hasil produksi dari memikih benih
yang sesuai standar serftifikasi menurut balai benih nasional.
Luar daerah adalah menjadikan mahasiswa
belajar dengan pengetahuan yang ada di luar daerah guna dapat diaplikasikan dan
dikembangkan ke daerah asal tersebut. Maka dari itu laporan ini disusun sebagai
penambangan pengetahuan dalam kegiatan pertanian sebagai penambah wawasan
menunjang pertanian yang ada didaerah sendiri ataupun di Indonesia baik di
sektor perternkan dan budidaya tanaman.
1.2
Tujuan
Praktikum
Tujuan praktikum yang ingin dicapai antara lain :
1. Mengetahui
bagaimana cara pengujian benih.
2. Mengetahui
apa saja syarat prosedur benih
bersertfikat.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Produksi Benih Padi
Tanaman padi (Oryza
sativa L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang dikonsumsi oleh sebagian
besar penduduk Indonesia. Lahan tanaman padi pada mulanya di tempatkan di lahan
yang tinggi dan berteras-teras namun pada saat sekarang padi telah banyak
diusahakan di daerah dataran rendah (Hasanah, 2007). Indonesia dalam produksi
beras nasional cukup menjanjikan, akan tetapi ketika dilihat secara umum hal
tersebut belum menambah pendapatan petani. Hal ini karena alih fungsi lahan
yang semula lahan pertanian beralih fungsi menjadi lahan nonpertanian dan
disebabkan juga karena lahan garapan perkapita pada masyarakat Indonesia yang
relatif sempit (Iwan dan Sudirman, 1994). Hasil padi meningkat maka harga beras
dapat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat serta menambahkan kesejahteraan
bagi masyarakat (Herawati, 2012). Kandungan gizi yang terdapat pada buah padi
antara lain karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu, dan vitamin. Beras
juga mengandung berbagai macam unsur mineral, antara lain kalsium, magnesium,
sodium, fosfor, dan lain sebagainya (Hasanah, 2007).
2.2 Produksi Benih Jagung
Jagung ( Zea mays L.)
ialah tanaman semusim yang dimanfaatkan bijinya sebagai bahan pangan dan non
pangan. Jagung merupakan sumber karbohidrat yang banyak di konsumsi oleh
masyarkat Indonesia setelah padi dan gandum.Produksi jagung di Indonesia masih
di bawah dari jumlah permintaan. Pada tahun 2015 produksi jagung meningkat, hal
itu di karenakan adanya upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung
dengan progam subround.
Komoditas jagung merupakan komo-ditas yang mendapat prioritas
utama untuk dikembangkan dalam rangka memenuhi per-mintaan dalam negeri yang
terus meningkat dari tahun ke tahun (Badan Litbang Pertani-an, 2005a). Pada
tahun 2008, realisasi penya-luran benih berbantuan adalah 2.275 ton dan angka
tersebut terus ditingkatkan pada tahun 2009 dengan menyediakan anggaran 1,294
trilyun (Dirjentan, 2009).
Salah
satu komponen yang paling me-nentukan dalam pengembangan jagung ada-lah benih.
Industri benih nasional tanaman pangan baru berkembang untuk padi, sedang-kan
untuk jagung persaingannya sangat ke-tat terutama hibrida, tetapi untuk komposit
tetap masih mengandalkan penangkar yang telah dibangun oleh pemerintah.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Lokasi Praktikum dan Waktu
Praktikum dilakukan di Balai Benih Induk Tenggarong,Kalimantan
Timur. Waktu praktikum pada tanggal 25 sampai dengan 28 Januari 2018,.
3.2 Alat
dan Bahan yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali
ini meliputi : Alat tulis dan kamera.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Klasifikasi Benih Tanaman Padi
Secara umum, pembagian jenis benih pada tanaman padi
ada 4 jenis. Ini bisa kita sebut dengan Klasifikasi Benih Padi, antara lain :
4.1.1 Benih Penjenis (BS)
Benih varietas unggul yang dihasilkan atau diciptakan oleh
para pemulia tanaman. Jumlah Benih
Penjenis (BP) masih sangat murni dengan jumlah terbatas. Sehingga BP ini secara
langsung mendapatkan perawatan serta pengawasan dari para pemulia. BP ini
berlabel KUNING.
4.1.2
Benih Dasar (FS)
Benih Dasar ini merupakan F-1 dari
BP. Benih Dasar ini masih mendapatkan perlakuan sedemikian rupa sehingga
kemurnian sifat – sifat genetiknya tetap tinggi. Pengawasan penanaman dan
pertanamanBD masih dilakukan langsung oleh para pemulia dan ahli perbenihan. BD
ini berlabel PUTIH.
4.1.3
Benih Pokok (SS)
Benih
Pokok ini merupakan F-1 dari BD . BD ini diperbanyak dengan sebaik-baiknya
supaya dapat dijaga tingkat kemurnian genetiknya. Benih Pokok ini berlabel
UNGU.
4.1.4
Benih sebar (ES)
Benih ini merupakan F-1 dari BPk (Benih Pokok). atau
kadang terjadi BB ini perbanyakan langsung dari Benih Dasar. Biasanya BB inilah
yang disebarkan kepada konsumen atau dibagikan pada para petani dalam rangka
mensosialisasikan suatu benih bermutu. BB ini berlabel BIRU.
4.2
Prinsip Genetik
Selama periode memproduksi benih banyak faktor yang
dapat menyebabkan kemuduran genetik benih, sehingga perlu dilakukan
pengendalian yang tepat agar diperoleh benih dengan mutu genetik yang tinggi
sesuai dengan keunggulan yang dideskripsikan pemulian tanaman ketika varietas
tersebut dilepas. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan selama produksi
dilapangan adalah :
4.2.1 Sejarah Lapang
Sejarah
lapang terkait dengan sejarah penanaman sebelumnya, terbebas dari tanaman
voluntir sehingga untuk menghindari hal tersebut perlu adanya jarak waktu
penanaman. Sebagai contoh persyaratan sertifikasi pada tanaman
padi yaitu adalah:
1.
Lahan harus bekas tanaman lan atau pernah diberakan.
2.
Lahan bekas tanaman padi, varietas sama atau varietas yang
lain yang mudah dibedakan dengan syarat yaitu produsen mau dan mampu
mengerjakan pengolahan tanah dan roguing secara intensif,sistem tanam tandur
jajar dan persemaian dari awal harus bebas voluntir.
4.2.2
Benih Sumber
Dalam kegiatan produksi benih bersertifikat gunakanlah
benih dari kelas yang lebih tinggi dengan mutu baik, yaitu memenuhi persyaratan
kemurnian,daya kecambah, bebas dari benih varietas lain, gulma dan penyakit
yang terbawa benih. Untuk memperoleh benih sebar, gunakan beih Sumber Benih
Pokok dan seterusnya. Benih padi yang digunakan adalah varietas ciherang dan
cigeulis.
4.2.3 Isolasi
Ketentuan
isolasi diterapkan untuk menghindari terjadinya penyerbukan silang dari varitas
yang berbeda, menghindari tercampurnya varitas lain pada saat panen, dan
penyebaran hama dan penyakit dari tanaman inang yang lain. Beberapa jenis
isolasi yaitu isolasi jarak, isolasi waktu dan isolasi fisik.
a.
Isolasi
Jarak
Areal produksi benih suatu varitas perlu
mempunyai jarak dengan pertanaman varitas yang lain agar tidak terjadi
percampuran. Sifat penyerbukan yang menyebabkan perbedaan jarak isolasi.
Tanaman yang menyerbuk sendiri tidak perlu diberi jarak isolasi yang jauh,
tetapi tanaman yang menyerbuk silang harus diberi jarak tertentu agar tidak
terjadi persilangan.
b.
Isolasi
Waktu
Diterapkan dengan memberikan selang waktu
tanaman yang berbeda antara
dua varitas dengan
blok/areal yang berdampingan sehingga pada saat pembungaan berbeda (misal
minimum 30 hari untuk tanaman padi dan jagung). Bila persyaratan isolasi jarak
tidak dapat diterapkan, maka dapat dilakukan isolasi waktu.
4.2.4 Roguing
Kegiatan roguing adalah membuang tanaman-tanaman
tersebut yang dapat dilakukan pada fase bibit, fase vegetatif dan fase
reproduktif. Tipe simpang dapat muncul karena tanaman memiliki keragaman yang
luas dan benih yang di gunakan berasal dari hasil persilangan. Biasanya dilakukan sebelum tanaman
diperiksa oleh petugas BPSB. Minimal dilakukan 3 kali, yaitu pada fase
vegetatif, fase berbunga, dan pada saat menjelang panen atau ± 80% malai sudah
menguning.
1. Roguing I
Dilakukan pada fase vegetatif (30
HST).
2. Roguing II
Dilakukan
pada fase berbunga (50 HST)
3. Roguing III
Dilakukan pada saat menjelang panen (100
HST).
4.3 Prinsip Agronomi
4.3.1
Pemilihan dan Penyiapan Lahan
Alat Pengolahan lahan
yang di gunakan adalah Hand Traktor dengan tahapan tanah di bajak selama 4
(empat) hari di lanjutkan di gelebek selama 3 (tiga) hari dan kemudian untuk
meratakan lahan menggunakan Garu. Pengapuran Lahan, Kapur di tebar merata pada
permukaan lahan, kondisi lahan setelah di bajak / gelebek di lakukan penaburan
kapur (Dolomit) dengan dosis 1,5 ton/ha atau 500 kg/ha dengan menggunakan
Procal. Pupuk Kandang, Diberikan pupuk
kandang pada lahan setelah di singkal / gelebek dengan dosis 2 (dua) ton/ha.
4.3.2
Perlakuan
Benih
a. Benih di masukan dalam bak dan di beri air + garam
secukupnya, kemudian gabah yang timbul di buang.
b. Perendaman benih di lakukan selama 24 jam
c. Di angkat dan ditiriskan
d. Di peram selama 48 jam hingga tumbuh mata tunas pada
butir benih.
e.
Untuk kebutuhan
semai Benih Kelas BS-BD : 15 kg / ha dan untuk Benih Kelas BD-BP : 25 kg / ha.
4.3.3
Pembuatan Persemaian
a. Tanah di olah
menjadi lumpur dengan menggunakan Hand Traktor.
b. Pembuatan
Bedengan Persemaian dengan menggunakan cangkul, membuat jalur bedeng menggunakan tali membentuk
parit-parit jalur, Bedengan yang sudah terbentuk diratakan dengan selembar
papan. Kebutuhan bedeng persemain untuk 1 (satu) ha sebanyak 7 (tujuh) bedeng
dengan ukuran 10 m x 1m.
c. Bedengan yang sudah siap taburi Furadan dan racun
keong (Samponen)
d. Penaburan benih padi yang sudah berkecambah, ditebar
merata pada permukaan bedengan persemaian.
e. Pemupukan 10 hari setelah semai dengan dosis Urea: 2
kg / 7 bedeng, SP-36 : 3 kg / 7 bedeng.
f. Pengendalian hama / Penyakit di persemaian di
lakukan penyemprotan dengan racun Insektisida dan Fungisida pada umur tanaman
15 hari setelah semai.
4.3.3
Penanaman
Sebelum
penanaman petakan sawah dikeringkan airnya selanjutnya ditaburi racun keong
(Bisnoid / Samponen). Penggarisan
petakan dengan menggunakan Caplak ukuran 30 cm x 30 cm, petakan tanaman
menggunakan jajar Legowo 5 : 1 Untuk
satu lubang tanaman ditanam 1-2 bibit padi. Selanjutnya melakukan Pengajuan surat permohonan
sertifikasi ke UPTD BPSBTPH Provinsi , Kalimantan Timur.
4.3.4
Pemeliharaan Tanaman
Beberapa
kegiatan yang termasuk kegiatan pemeliharaan tanaman adalah penjarangan, pendangiran,
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan gulma, pemangkasan serta memberi ajir
atau lanjaran.Tanaman memerlukan hara yang diperoleh dari pemupukan maupun dari
yang tersedia di tanah. Unsur unsur hara diketahui sangat mempengaruhi hasil
dan mutu benih. Selain pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan gulma
perlu dilaksanakan secara tepat agar hasil dan mutu benih tidak turun.
a.
Pemupukan
Pemupukan
pertama dilakukan pada umur 1-7 hari setelah tanam dengan menggunakan pupuk
Urea 50 kg/ha, SP 36 150kg/ha, dan KCL 100 kg/ha. Pada pemupukan kedua
dilakukan pada umur tanaman 40 hari
setelah tanam,dengan menggunakan pupuk
Urea 100 kg/ha dan NPK Mutiara dengan dosis 75kg/ha.
b. Penyiangan
Penyiangan
pertama dilakuan pada saat umur tanaman
padi 15 HST. Penyemprotan gulma padi dengan racun herbisida Lindomin
dengan menggunakan hand sprayer. Penyiangan dapat juga dilakukan menggunakan
alsin pertanian (power wicler). Penyiangan kedua dilakukan pada umur tanaman 48
HST, dengan mencabut/memotong gulma menggunakan alat sabit.
c.
Pengendalian
Hama dan Penyakit
Pengendalian Hama dan
Penyakit Pertama :
1. Pengamatan
dilakukan pada tanaman apakah terserang hama atau penyakit pada umur tanaman 20
hari setelah tanam.
2. Penyemprotan
menggunakan alat hand sprayer.
3. Racun
yang digunakan disesuaikan hasil pengamatan serangan terhadap tanaman padi
yaitu fungisida atau insektisida.
4. Waktu
penyemprotan racun fungisida atau insektisida dianjurkan pada pagi hari
(09.00-10.00 Wita) atau sore hari (16.00-17.00 Wita).
Pengendalian Hama dan Penyakit Kedua :
1. Pengamatan
dilakukan pada tanaman apakah terserang hama atau penyakit pada umur tanaman 60
hari setelah tanam .
2. Penyemprotan
menggunakan alat hand sprayer.
3. Racun
yang digunakan disesuaikan hasil pengamatan serangan terhadap tanaman padi
yaitu fungisida atau insektisida.
4. Waktu
penyemprotan racun fungisida atau insektisida dianjurkan pada pagi hari
(09.00-10.00 Wita) atau sore hari (16.00-17.00 Wita).
Pengendalian Hama dan Penyakit Kedua :
1. Pengamatan
dilakukan pada tanaman apakah terserang hama atau penyakit pada umur tanaman 80
hari setelah tanam .
2. Pada
fase ini malai padi mulai keluar / pecah maka dilakukan pengamatan hama dan
penyakit apa yang menyerang tanaman gulma yang menentukan racun yang akan
digunakan.
4.3.5
Panen
Kegiatan
pemanenan dilakukan pada saat diperoleh benih dalam jumlah dan mutu benih yang tertinggi.
Panen harus dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat agar diperoleh benih
bervigor yang tinggi. Bila panen dilakukan sebelum benih mencapai masak
fisiologi, maka vigornya masih rendah dan tidak diperoleh dalam jumlah yang
banyak, demikian pula bila terlambat panen maka akan menghadapi resiko
kehilangan benih dilapangan dan penurunan mutu yang lebih besar.
1. Waktu
panen yang tepat adalah pada tanaman masak fisiopelelogis atau 90% gabah telah menguning.
2. Untuk
meningkatkan kemurnian benih, sebelum dipanen dilakukan pengontrolan dan
seleksi terhadap tanaman-tanaman yang system pengisiannya normal.
3. Pemotongan
malai padi menggunakan sabit, dikerjakan selama satu hari/ha.
4. Malai
padi yang telah dipotong diletakkan diatas loteng padi pada saat pemotongan
padi agar tidak basah atau kotor.
5. Pelekan
malai padi diatas terpal yang kering.
6. Proses
perontokan (memisahkan gabah dengan tungkai padi) menggunakan Power Treser.
4.4 Pengeringan Benih
Pengeringan dengan sinar matahari
1.
Proses
penjemuran / pengeringan menggunakan sinar matahari, gabah di jemur diatas
lantai jemur beralaskan terpal, gabah di hampar dan di ratakan menggunakan
garu.
2.
Gabah di garu
berulang-ulang supaya kering gabah merata
3.
Penjemuran
selama 2 hari sampai kadar airnya mencapai 10% agar gabah tahan lama pada saat
di simpan.
4.
Sesudah padi
kering di masukan dalam karung dengan menggunakan sekop.
5.
Membuat laporan
dan berita acara total hasil penimbangan produksi padi (Gabah Kering Benih).
6. Proses pembersihan gabah calon Benih dengan
menggunakan alsin Seed Cleaner.
4.5 Pengolahan Benih
4.5.1
Proses pembersihan
a) Gabah calon benih dimasukan mesin Seed Cleaner dan
kemudian proses pembersihan selesai gabah calon benih ditampung di dalam karung
dan dikemas 50 Kg / Karung.
b) Calon Benih yang dikemas dalam karung 50 Kg
dipindahkan ke gudang benih.
c) Membuat laporan dan berita acara total hasil
penimbangan produksi padi (Gabah benih)
d) Melepaskan masa Dormansi calon benih selama 20 hari.
4.6 Pengujian Benih
a) Pengambilan contoh Benih untuk dilakukan pengujian
Laboratorium guna mendapatkan Sertifikasi Label yang dilakukan oleh UPTD Balai
Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Provinsi
Kalimantan Timur.
b) Mengajukan surat permohonan registrasi label UPTD
BBI Padi & Palawija ke UPTD BPSBTPH Provinsi Kalimantan Timur.
4.8
Pengemasan
Benih
Packing : Kemasan 5 Kg, 10 Kg, 20 Kg, 25 Kg ( Setiap kemasan ada label) yang tertuliskan balai
benih.
4.9
Sertifikasi Benih
Prosedur benih bersertifikat :
Permohonan sertifikasi benih setiap orang atau
badan hukum yang ingin memproduksi benih
bersertifikat harus mengajukan permohonan kepada Dinas Pengawasan dan
Sertifikasi Benih atau Cabangnya. Permohonan sertifikasi diajukan oleh produsen
benih paling lambat satu bulan sebelum tanam, dengan mengisi formulir yang
telah ditetapkan. Permohonan tersebut dilampiri dengan ;
a. Label
benih yang akan ditanam
b. Peta
lapangan
c.
Biaya pendaftaran dan pemeriksaan lapang
sesuai dengan ketentuan.
5.1 Klasifikasi Benih Tanaman Jagung
Secara umum, pembagian jenis benih pada tanaman jagung
ada 4 jenis. Ini bisa kita sebut dengan Klasifikasi Benih Padi, antara lain :
5.1.1 Benih Penjenis (BS)
Benih varietas unggul yang dihasilkan atau diciptakan oleh
para pemulia tanaman. Jumlah Benih
Penjenis (BP) masih sangat murni dengan jumlah terbatas. Sehingga BP ini secara
langsung mendapatkan perawatan serta pengawasan dari para pemulia. BP ini
berlabel KUNING.
5.1.2
Benih Dasar (FS)
Benih Dasar ini
merupakan F-1 dari BP. Benih Dasar ini masih mendapatkan perlakuan sedemikian
rupa sehingga kemurnian sifat – sifat genetiknya tetap tinggi. Pengawasan penanaman
dan pertanamanBD masih dilakukan langsung oleh para pemulia dan ahli
perbenihan. BD ini berlabel PUTIH.
5.1.3
Benih Pokok (SS)
Benih
Pokok ini merupakan F-1 dari BD . BD ini diperbanyak dengan sebaik-baiknya
supaya dapat dijaga tingkat kemurnian genetiknya. Benih Pokok ini berlabel
UNGU.
5.1.4
Benih sebar (ES)
Benih
ini merupakan F-1 dari BPk (Benih Pokok). Atau kadang terjadi BB ini
perbanyakan langsung dari Benih Dasar. Biasanya BB inilah yang disebarkan
kepada konsumen atau dibagikan pada para petani dalam rangka mensosialisasikan
suatu benih bermutu. BB ini berlabel BIRU.
5.2 Prinsip Agronomi
5.2.1
Pemilihan dan Penyiapan Lahan
Dilakukan dengan cara
penebasan / pembersihan lahan dari gulma dengan cara ditebas dan menggunakan
Herbisida bila mana perlu. Pengolahan
tanah, Pengolahan lahan dengan ditraktor atau TOT. Pengapuran, Kapur: 50 kg/ha,
pengapuran lahan dilakukan 3 (tiga) hari sebelum tanam. Penggunaan benih unggul
(berlabel) Benih jagung yang ditanam adalah benih unggul bersertifikat kelas BS
dengan kebutuhan benih per ha sebanyak 30 kg. Pengendalian penyakit (Bulai)
Pengendalian penyakit bulai dilakukan dengan cara merendam benih sebelum
ditanam dengan larutan Ridomil dosis 1
(satu) kg benih digunakan 2 (dua) gr Ridomil.
5.2.2
Penanaman
Penanaman dengan cara
ditugal setiap lubang di isi 2 (dua) butir benih, lubang ditutup dengan pupuk
kandang, dengan jarak tanam 40 x 80 cm dan menggunakan alat bantu berupa tali
digunakan untuk meluruskan baris tanaman dan mempermudah perawatan.
5.2.3 Pemeliharaan Tanaman
a.
Pemupukan
Pupuk dasar SP
36 : 50 kg/ha, KCl : 50 kg/ha, NPK : 50
kg/ha dan procal : 50 kg/ha diberikan pada saat sebelum tanam, sedangkan Urea :
75 kg/ha diberikan pada saat tanaman berumur 7 (tujuh) HST dan 45 HST.
b.
Pemeliharaan
Dilakukan
pada saat tanaman, setelah tanam sampai panen yaitu 1 (satu) HST sampai dengan 96 HST. Pada umur tanaman
30 HST dilakukan penyiangan pertama dengan cara di semprotkan menggunakan
herbisida dengan dosis sesuaii pertumbuhan gulma, disemprotkan secara merata,
sedangkan penyiangan kedua dilakukan pada saat umur tanaman mencapai 57 Hst.
Pemberian air disesuaikan dengan kondisi. Hal yang perlu diperhatikan adalah
saat-saat pada umur tanaman 19 HST,40 HST, dan 75 HST.
c.
Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan
pada tanaman berumur 35 HST dengan cara di cangkul di samping tanaman, kiri dan
kanan sehingga membentuk bumbunan.
d.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pada saat tanaman
berumur 40 HST dilakukan pengendalian hama
menggunakan insektisida Furadan 3 g, dengan cara ditaburkan melalui
pucuk tanaman dengan dosis 3 – 4 butir/ tanaman.
e.
Panen
Dilakukan pada saat
tanaman berumur 100 – 110 HST dan klobot sudah berwarna kecoklatan, biji keras
dan mengkilat.
5.3 Pengeringan Benih
1. Sistem
Pengeringan Penjemuran Tongkolan Untuk kemudahan waktu pemipilan dan perontokan
tongkolan harus dijemur terlebih dahulu dibawah sinar matahari langsung.
2. Perontokan calon benih Perontokkan
dilakukan bila kadar air mencapai 13 -12 % apabila kadar air diatas 13 % maka
biji jagung akan mudah pecah dan mengurangi produksi benih.
5.4 Pengolahan
Benih
5.4.1 Proses
Pembersihan
a. Alat
yang digunakan Pembersihan dan sortasi Pembersihan dan sortir dikerjakan
menggunakan ayakan manual untuk memisahkan kotoran serta memilih benih yang
bernas.
b. Penjemuran benih Setelah
benih disortasi dan bersih dilakukan penjemuran benih sampai kadar air pada
benih antara 10 – 9 %.
5.5 Pengujian
Benih
Setelah
dibersihkan di sortasi dan di ketahui jumlah stok benih yang tersedia.
Selanjutnya untuk mengetahui kemurnian benih, dilakukan uji benih di
laboratorium BPSBTPH.
5.6
Pengemasan
Benih
5.6.1
Registrasi label
Setelah lulus uji benih dari laboratorium
BPSBTPH selanjutnya dilakukan registrasi label untuk pengambilan label setelah
diketahui kemurnian benih ,daya tumbuh dan kadar air. Kegunaan label antara
lain adalah untuk : Mengetahui tanggal pengujian benih, Mengetahui masa
berlakunya benih tersebut.
5.6.2
Pengemasan
Dikerjakan setelah melalui proses prosesing, penjemuran, sortasi dan uji benih,
registrasi label serta label harus terlampir didalam kemasan yang mudah
dilihat, dibaca dan tidak cepat rusak.
a. Jenis
Kemasan : Plastik (Benih Palawija Bermutu )
b. Ukuran
kemasan : 10 dan 2 kg
5.7
Sertifikasi Benih
Prosedur benih bersertifikat adalah sebagai berikut :
Permohonan
sertifikasi benih setiap orang atau badan hukum yang ingin memproduksi benih
bersertifikat harus mengajukan permohonan kepada Dinas Pengawasan dan
Sertifikasi Benih atau Cabangnya. Permohonan sertifikasi diajukan oleh produsen
benih paling lambat satu bulan sebelum tanam, dengan mengisi formulir yang
telah ditetapkan. Permohonan tersebut dilampiri dengan ;
d.
Label benih yang akan ditanam
e.
peta lapangan
f.
biaya pendaftaran dan pemeriksaan lapang
sesuai dengan ketentuan.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil survey yang telah dilakukan bahwa benih yang baik adalah benih yang dikelola sesuai prosedur kementrian
pertanian baik dalam produksi perbanyakan, perawatan, pemanenan, penyimpanan,
pelabelan, bahkan sampai pada tahap penjualan. Berguna agar para petani yang siap tanam mendapatkan hasil yang maksimal dalam
memperbanyak dan produksi aneka tanaman pangan yang sesuai dengan label sertifikasi. Proses
sertifikasi benih dapat dilakukan melalui:
a. Pengawasan
pertanaman dan atau pengujian di laboratorium yang diselenggarakan oleh Balai
Pengawasan dan Sertifikasi Benih.
b. Penerapan
sistem manajemen mutu, dimana produsen benih disertifikasi oleh Lembaga
Sertifikasi Sistem Mutu, dan
c. Sertifikasi
benih oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LS Pro) dengan Ruang lingkup sertifikasi
benih terakreditasi (Permentan No. 39 Tahun 2006, Direktorat Perbenihan 2009).
5.2 SARAN
Seharusnya mahasiswa dapat diberi sampel atau
contoh yang dapat dilakukan pembuatan di daerah asal sehingga penyebaran cara
pembuatan molasis ini dapat dilakukan pada daerah masing-masing. Serta
dilakukan pratikum lapangan dalam pembuatan secara langsung pada pembuatan
molasis tersebut. Bukan hanya penjelasan secara teoritis saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar